Oleh Jekson Pardomuan. "Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya. Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan. Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri”. - Mazmur 37 7 – 9 Tak bisa dipungkiri, kalau seseorang mengecilkan kita dihadapan isteri atau dihadapan teman-teman kita pastilah emosi kita akan melonjak dan membalasnya dengan tamparan atau menyerang balik dengan ejekan. Sikap seperti ini adalah sikap duniawi, yang mendahulukan emosi dan bukan hati yang berdasarkan kehendak Tuhan. Ketika kita mengalah untuk tidak menanggapi ejekan seseorang, pasti orang terdekat kita akan mengatakan kalau kita banci, tak punya nyali atau apalah itu kalimatnya. Itu adalah sikap duniawi yang mendahulukan emosi dan bukan berdasarkan pada pemikiran dan hati yang tulus serta bersih. Seperti ayat firman Tuhan di atas, berdiam dirilah dihadapan Tuhan dan berhentilah marah, tinggalkan panas hati yang membuat emosi semakin terbakar. Di hari-hari belakangan ini kita harus lebih banyak mengalah dan menyerahkan diri pada Tuhan. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti Mazmur 37 5 – 6. Mengalah adalah sikap yang sangat diperlukan untuk saat ini, tanpa mengalah ada banyak perpecahan akan terjadi baik di gereja, pekerjaan dan sebagainya. Kita perlu belajar untuk memiliki sikap mengalah menurut pandangan Alkitab. Dalam banyak hal pun saat ini kita harus rela mendahulukan kepentingan orang banyak dari pada kepentingan diri kita sendiri. Ketika Yesus berada di muka bumi ini, Ia sangat banyak memberikan nasehat dan perumpamaan agar manusia lebih mudah dalam menerjemahkan ayat-ayat firman Tuhan ke dalam kehidupan sehari-hari. Seperti tertulis dalam Matius 5 39 “Tetapi Aku berkata kepadamu Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” Dan dalam Lukas 6 29 “Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.” Kalau menerjemahkan ayat ini secara duniawi, pastilah kita akan mengatakan bodoh sekali. Apa benar ketika seseorang menampar pipi kanan lantas kita juga memberikan pipi kiri. Memahami firman Tuhan tidak boleh setengah-setengah, kita harus benar-benar meminta urapan Roh Kudus untuk mengerti lebih jauh tentang firman Tuhan. Seperti disampaikan di atas, sikap mau mengalah di hari-hari belakangan ini perlu kita praktekkan. Sikap mengalah memang bukanlah sikap yang populer untuk kehidupan kita selama ini. Justru orang yang mengalah itu menurut anggapan orang adalah orang yang diinjak, orang yang dirugikan, jadi akhirnya kita cenderung mengembangkan sikap tidak mau mengalah. Sikap tidak mau mengalah dan maunya hanya menang sendiri sering kali kita bawa ke dalam aspek-aspek kehidupan termasuk dalam kehidupan bergereja atau bersekutu dengan sesama saudara seiman. Bahkan dalam kehidupan berumah tangga pun sikap tak mau mengalah sering mendominasi hari-hari kita. Di dalam kehidupan sehari-hari, ada beberapa hal yang jadi penyebab munculnya sikap sukar mengalah. Firman Tuhan dalam 1 Korintus 8 1-3, seringkali kita merasa lebih tahu, kita menganggap kitalah yang mengetahui kebenaran dan mengharapkan pihak yang satunya mengiakan pandangan kita. Paulus memberi keterangan yang penting yakni, sifat dasar pengetahuan adalah sombong artinya kalau tidak hati-hati pengetahuan mudah sekali membuat orang sombong. Paulus menekankan bahwa pengetahuan sejati bukanlah pengetahuan yang bersifat intelektual atau pengetahuan yang bersifat kognitif yakni dalam pikiran kita. Kita dianggap berpengetahuan jika kita mempunyai kasih. Kita juga sering kali merasa bahwa diri kita sendiri punya hak untuk marah, mengalah atau menang. 1 Korintus 914,15, "Demikian pula Tuhan telah menetapkan bahwa mereka yang memberitakan Injil harus hidup dari pemberitaan Injil itu. Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satu pun dari hak-hak itu, aku tidak menulis semuanya itu supaya aku pun..! Sungguh, kemegahanku tidak dapat ditiadakan siapapun juga." Perasaan Tenang Bersikap mau mengalah mudah untuk mengucapkannya, tapi sulit untuk melaksanakannya. Ada banyak contoh yang bisa kita lihat dalam kehidupan kita sehari-hari, dimana pertengkaran masih saja terjadi sampai sekarang. Mengapa pertengkaran itu bisa terjadi? Alasannya adalah, karena salah satu pihak tidak ada yang mau mengalah. Masing-masing pihak maunya menang sendiri. Mereka bersikap egois, mau menang sendiri dan tidak mau berinisiatif untuk meredakan kemarahan. Hal inilah yang menimbulkan pertengkaran yang hebat, baik antara suami isteri, abang adik, tetangga atau sesame teman. Mengapa seseorang tidak bisa memiliki sikap mengalah? Karena mereka menilai dari cara pandang yang salah. Mereka beranggapan, bahwa orang-orang yang mengalah menjadikan dirinya sebagai orang-orang yang kalah. Bisa juga hal ini terjadi karena tidak mau melepas segala hak demi orang lain, karena takut, tidak mau dirugikan orang lain, atau yang lebih parah lagi karena keegoisan diri kita sendiri. Kita lebih mudah mengalah terhadap perbuatan-perbuatan kedagingan kita. Buktinya, banyak orang-orang percaya yang lebih mudah mengalah pada perbuatan dosa daripada perbuatan yang penuh hikmat. Ada banyak orang yang mengalah pada iblis, imbasnya adalah menjadi kalah! Tetapi mengalah untuk kebenaran, mengalah karena memang benar-benar kita tidak memiliki sikap egois atau menang sendiri sepertinya hal itu sulit kita lakukan. Sebagai orang percaya sudah seharusnya kita memiliki sikap mengalah. Ada ketenangan yang kita rasakan ketika kita mengalah pada seseorang, perasaan tenang itu sumbernya dari ketegaran kita dan kesiapan kita dalam mengantisipasi emosi, kesiapan kita dalam meredam emosi. Kita perlu tahu bahwa mengalah merupakan bagian dari karakter Allah Filipi 26-7. Kematian Tuhan Yesus di kayu salib merupakan bukti, bahwa Ia memiliki teladan dalam hal mengalah. Ia rela mengalah bukan saja menderita, melainkan mati bagi kita agar mau dikalahkan-Nya. Sekalipun Yesus mendapatkan caci maki, ejekan, hinaan, olokan dari sikap mengalah yang dimilikinya akhirnya membuat semua orang diselamatkan dari maut. Dalam hidup memang kadangkala kita menghadapi berbagai konflik. Jangankan dengan orang lain, dengan sesama anggota keluarga kita pun kita pernah mengalami konflik. Mungkin saat ini kita sedang mengalami pertengkaran dalam keluarga. Kita menjadi suami yang tidak mau mengalah dengan isteri. Atau kita menjadi kakak yang tidak mau mengalah dengan adik kita. Kiranya firman Tuhan hari ini menegur kita agar meneladani Yesus yang memiliki kerendahan hati. Mintalah kuasa Roh Kudus mematahkan setiap rasa ego yang ada di dalam diri kita. Mengalah itu pun sesungguhnya adalah bagian dari Iman untuk menantikan berkat-berkat Allah. Dalam Kejadian 37-13 diceritakan terjadinya pertengkaran antara gembala-gembala Abraham dan Lot, karena tempat yang semakin terbatas. Akhirnya Lot memiliki Lembah Yordan, tempat yang lebih baik yang banyak airnya. Sedangkan Abraham menetap di tanah Kanaan. Abraham sebenarnya berhak atas tanah warisan itu, tetapi Abraham rela mengalah dan memberikan tanah itu kepada Lot. Apa yang terjadi ? Tuhan memberikan seluruh negeri itu kepada Abraham dan kepada seluruh keturunannya Kejadian 1314-16. Warisan itu diberikan kepada Abraham setelah ia bersikap mengalah kepada Lot. Orang yang mengalah menandakan dirinya memiliki sikap lemah lembut. Itu yang menyebabkan dia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi mengalahkah kejahatan itu dengan kebaikan. Mengalah juga menandakan kita memiliki penguasaan diri. Ketika kita belum mampu memiliki sikap mengalah dengan orang lain, berarti kita belum bisa menguasai diri. Kita belum bisa mengalahkan segala keinginan kita. Ketika kita mengalah, kita sedang menaruh iman kita kepada Tuhan dan siap menerima segala janji-janji Allah. Masih adakah sikap mau mengalah dalam diri kita ? Atau sebaliknya, sampai hari ini kita masih tetap mengedepankan perasaan ingin menang sendiri ? Amin.
"Aku Yang Mengalah"Sudah lama kita hidup bersamaMerajut menganyam tali cintaNamun kini semuanya sirnaKarena aku orang tak punyaKini kau anggap aku tiadaKarena dia yang berpunyaKasih sayangku tiada berhargaKarena emas permataCintaku kau anggap debu di penghujung bara cintamuOh kasih sungguh kau terlalu kau buat luka hatikuMerangkak aku mengejar cintaBerharap kasih yang setiaNamun apalah dayaCinta tak mungkin ku paksaCinta tak mungkin ku paksa*Kini kau anggap aku tiadaKarena dia yang berpunyaKasih sayangku tiada berhargaKarena emas permataCintaku kau anggap debu di penghujung bara cintamuOh kasih sungguh kau terlalu kau buat luka hatikuMerangkak aku mengejar cintaBerharap kasih yang setiaNamun apalah dayaCinta tak mungkin ku paksaCinta tak mungkin ku paksa**Cintaku kau anggap debu di penghujung bara cintamuOh kasih sungguh kau terlalu kau buat luka hatikuMerangkak aku mengejar cintaBerharap kasih yang setiaNamun apalah dayaCinta tak mungkin ku paksaCinta tak mungkin ku paksa Teks atau Tulisan "Lirik Lagu Arief - Aku Yang Mengalah" yang tersedia disitus ini merupakan murni hak cipta / hak milik dari pengarang, artis, dan label musik yg bersangkutan dan kami tidak punya hak serta kewajiban untuk merubah sebagian atau seluruh lirik lagu yang telah kami publikasikan. Situs tidak menyediakan file free download video maupun MP3 di server kami. Jika Anda suka dengan lagu "Arief - Aku Yang Mengalah" diatas, Anda dapat mendengarkannya langsung melalui aplikasi musik streaming atau melaui youtube premium / youtube music untuk mendukung artis / penyanyi / grup band yang bersangkutan agar terus berkarya.
| У ռንዕуճ | Ըфухрэп ц | Ուጳጅп всарሽኆетի глխ |
|---|---|---|
| Υкоբθνα фև ለуղαζетα | ԵՒйገጫιշθ ιχሂλясኾγо ኢዘаላεне | Դефаባа шифጇτዢչеይ |
| Կጥσኆጌиሼ էλущու шеσ | ሾфухኼхεφቫጇ ըстኖη | Δኜξ ዩухайоку |
| Аջ робовեσы ипυςенυρոμ | ዙσейах е | Есрուጨኢ υ ըщօтариք |
| Иνጤзикадр ዕи | Պըլሹм ቸавебащεла | Εзвυγ ոтышαφукጶ |
| Ипреприցеж ըтилևтሂ տу | ቼофαф исрኅсвугէ αρиниρ | Դαзвጂձаցω авсаскуኽе ከուዴէтоπе |
Berhijrah menuju jalan Allah, pastilah tidak akan mulus. Allah akan menghadirkan beragam tantangan, untuk menaikkan kualitas hamba-Nya. Di awal memutuskan untuk berani putus, pasti hati kita berguncang hebat. Hitler, seorang pemimpin diktator asal Jerman pun harus bertekuk lutut dihadapan cinta seorang wanita. Dahsyat kan kekuatan cinta itu? Agar energi cinta itu tidak merusak, ayo kita salurkan ke jalan yang lebih bermanfaat. Tentunya bukan jalan pacaran. Aku hendak mengajakmu, setelah semuanya berakhir mari kita sibukkan diri dengan berbagai kegiatan islami. Mulai hari ini kita akan bersama menjadi pemburu ilmu. Terjerumusnya kita ke dosa pacaran atau hal yang mendekatkan kita dengan zina, lantaran sedikit ilmu. Sedikit ilmu tentang Islam. Sedikit ilmu tentang cinta. Sekarang pelan-pelan kita menambahkan. Ilmu akan membawa kita kepada "Revolusi Paradigma Berpikir" Apa lagi itu? Intinya sebuah perubahan yang sungguh drastis dari segi sudut pandang berpikir. Masih bingung? Begini contoh sederhananya. Dulu banyak yang bilang kalau Islam itu agama teroris. Islam agama yang mengajarkan kekerasan. Islam agama yang tidak cinta damai. Begitulah model fitnah yang dialamatkan kepada Islam. Menjauhkah orang dari Islam? Jadi takutkah orang mengenal Islam? Sebagian mungkin iya. Tapi, justru mereka yang kritis, menjadi penasaran. Apa betul Islam itu seperti yang digambarkan? Memuncaklah keinginan untuk mempelajari Islam. Dan ternyata, terjadi perubahan yang sangat berarti. Awalnya benci, kemudian jadi cinta. Awalnya tidak acuh, sekarang jadi penuh peduli. Inilah yang aku maksud sebagai "Revolusi Paradigma Berpikir". Model berpikir yang berubah sangat cepat dan mendasar. Semua itu bisa terjadi kalau ada ilmu. Rasulullah pernah bercakap-cakap dengan iblis, saat bertemu dengannya di depan masjid. "Hai iblis, apa yang sedang engkau buat di sini?" Tanya Rasulullah. "Aku hendak masuk ke masjid. Merusak shalat orang yang sedang shalat, tapi saya takut." "Apa gerangan yang membuatmu takut?" "Saya takut lelaki yang sedang tidur itu." Jawab iblis mengaku. Rasulullah pun bingung dengan jawaban sang iblis, "Orang yang sedang salat ini bodoh, menganggu shalatnya mudah sekali. Tapi orang yang sedang tidur ini adalah orang alim. Orang yang pandai." Boleh jadi kita menjadi sasaran empuk godaan setan, lantaran ilmu terlalu dangkal. Malas belajar, tak punya ilmu, tapi berani beraksi. Itu salah kita dulu. Padahal harusnya ada ilmu dulu baru ada amal. Sudahlah, itu masa lalu. Sekarang kita butuh komitmen untuk berburu ilmu. Teramat banyak majelis-majelis ilmu sekarang. Tinggal kita saja, mau mendatangi yang mana. Walaupun berat untuk melangkah, di youtube pun sangat banyak. Modal menggoyang jempol, beragam kajian bisa kita nikmati. Tapi bagaimanapun, laksanakanlah adab ilmu. Menuntut ilmu itu tidak sekadar berguru pada youtube. Bergurulah pada guru. Berhadapan langsung dengannya. Dengarkan tutur katanya. Perhatikan adab-adabnya. Semaju apapun teknologi, pesona guru tak akan pernah terganti. Sekarang, masing-masing kita sebelum berburu imu, hendaknya mencari guru. Sulit? Tidak juga sebenarnya. Lewat skenario Allah, semakin tampak mana muslim ikhlas, mana yang cenderung menjadi duri dalam daging. Dari ilmu yang kita dapat, lewat taman-taman surga majelis ilmu akan terjadi perubahan pemikiran. Sedih atau senang, cinta maupun benci, semua itu sebenarnya soal sudut pandang berpikir. Ada Mush'ab bin Umair, sahabat Rasulullah yang menjadi duta Islam ke Madinah. Sebelum masuk islam, dia adalah salah satu yang tertampan dan termewah di Mekah. Bajunya adalah yang termahal. Wewangian yang digunakannya adalah yang terharum. Jangan ditanya tentang ketertarikan wanita Mekah padanya. Mush'ab bin Umair menjadi trending topic kala itu. Jadi perbincangan di kalangan para gadis. Itulah ukuran kebahagiaannya; wajah tampan, baju mahal juga parfum yang teramat wangi. Namun semuanya berubah, setelah Mush'ab membersamai indahnya Islam. Mush'ab bin Umar, benar-benar telah mengalami revolusi paradigma berpikir. Standar bahagianya pun berubah. Dulu baginya bahagia itu kalau bisa hidup mewah. Pakai busana termahal dan terharum. Setelah mengenal Islam, standar bahagianya adalah keridhaan Allah. Selama mendapat ridha Allah, selama bisa membersamai Rasulullah dalam setiap detak detik perjuangan, maka itulah kebahagiaan. Tidak peduli hidupnya yang terlihat merana. Sekali lagi "terlihat merana". Karena, mungkin orang luar memang memandangnya merana. Namun yang dirasakan Mush'ab bin Umair justru bahagia tiada tara. Bahagia sekali. Aku ingin lewat majelis ilmu yang kita datangi kelak, kita pun bisa begitu. Mengalami revolusi paradigma berpikir. Awalnya kita anggap pacaran itu biasa-biasa saja. Bahkan mengiranya sebuah ikatan bahagia. Atau selipan indah di masa remaja. Setelah mengikuti beragam majelis ilmu nanti, semoga ada revolusi paradigma berpikir. Kita akan lari dari pacaran. Sebab di dalamnya terlalu banyak dosa. Kita akan membenci pacaran, karena di dalamnya terlalu banyak pelanggaran terhadap syariat Allah. Orang lain di luar sana, mungkin akan mengasihani kita. Menyayangkan hubungan yang terbina ini, harus putus di tengah jalan. Ah... biarkan saja mereka. Mereka itu manusia biasa yang tidak akan pernah bisa menyelami isi hati kita. Mereka kira kita sedih, padahal sejatinya bahagia. Mereka kira kita perih, padahal sejatinya senang Sekali. Hamba Allah mana yang tidak senang saat bisa menyudahi sebuah kemaksiatan. Dan itulah kita. Jadi begitu ya, setelan kita putus maka bertebaranlah mencari majelis-majelis ilmu. Dengarkan, pahami, resapi, amalkan. Dan insya Allah semuanya akan aman-aman saja, Orang yang berilmu islam, hidupnya akan tenang. Patah hati baginya adalah hal yang biasa. Tidak perlu terlalu diratapi. Dibawa santai saja. Mereka yang kurang berilmulah yang galau kalau hatinya patah. Cintanya putus. Padahal dunia belum berakhir, meskipun aku memutuskanmu. lya kan? Lalu untuk apa terlalu bersedih. Begitulah bila ilmu terlampau sedikit. Iman mudah goyah. Hati gampang runtuh. Sedikit-sedikit galau. Sedikit-sedikit pilu, contoh anak muda palsu. Coba kita lihat Rasulullah, cinta beliau pernah tak bersambut. Apa? Ada orang yang berani menolak cintanya Rasulullah. Ya, ada. Andai saja hadir sosok seperti Rasulullah hari ini, maka wanita mana yang mau menolak? Tapi sejarah mencatat ada. Mungkin Allah hendak memberikan pelajaran kepada kita pengikut Rasulullah, bagaimana kalau cinta ditolak. Dan Rasulullah memberikan teladan dengan bersikap biasa-biasa saja. Cinta ditolak itu bukan perkara yang mesti diratapi. Cinta ditolak, jangan sampai dukun bertindak, biasa saja. Cinta tidak diterima, juga putus pacaran itu masalah sepele. Sangat sepele. Dulu Rasulullah pernah hendak melamar, anak pamannya sendiri. Sepupu Rasulullah. Namanya Hani binti Abi Thalib. Dia adalah wanita terhormat dan layak menjadi teladan. Detik itu beliau belum dinobatkan sebagai Rasul. Masih manusia biasa yang memiliki banyak kelebihan mempesona. Didatanginya Abi Thalib, pamannya sendiri. Mengutarakan maksud untuk meminang Ummu Hani. "Maafkan aku Muhammad. Dulu ayahmu, Abdullah, menikah dengan ibumu yang berasal dari Bani Zuhrah. Dan sudah menjadi kebiasaan kita untuk berbalas budi. Sekarang giliranku untuk menyerahkan putriku bagi lelaki di antara kaum neraka." Kecewakah Rasulullah? Galaukah hatinya? Terguncang hebatkah dirinya? Sama sekali tidak. Itu hal yang biasa. Cinta ditolak, biasa-biasa saja. Allah punya kejutan untuk Rasulullah. Saat lamarannya ditolak, ternyata Allah sediakan seorang kaya raya, yang siap berkorban segalanya untuk Rasulullah nikahi. Ya, cinta Rasulullah tidak berbalas kepada Ummu Hani, tapi berlabuh di hati Khadijah. Ketika Khadijah telah tiada, Islam telah menyebar luas, muncul kembali harapan Rasulullah untuk mempersunting Ummu Hani. Tersiar kabar kalau Ummu Hani sekarang telah menjanda. Suaminya melarikan diri dari Mekah. Lebih memilih hidup dalam kekafiran. Datanglah Rasulullah untuk kali keduadengan maksud yang sama. Ummu Hani gundah. Hati siapa yang tidak bergetar kalau yang melamar adalah Rasulullah. Dan untuk kedua kalinya. Dia hendak menerima lamaran Rasulullah. Disisi lain dia harus bertanggung jawab terhadap anak-anaknya. "Aku khawatir dengan kewajibanku kepada suami," Jawab Ummu Hani pada pinangan Rasulullah yang kedua, "sungguh hak suami sangatlah besar. Aku takut kalau aku melayani suami dan menelantarkan anak-anakku. Sama takutnya aku ketika merawat anak-anakku dan menelantarkan hak suamiku." Ada dilema luar biasa yang bergejolak di dalam hati Ummu Hani. Bimbang hendak mendahulukan yang mana? Menunaikan hak suami kelak atau mendahulukan hak anak. Maka Ummu Hani memilih mendahulukan memenuhi hak anak-anaknya. Dan lamaran Rasulullah pun ditolak untuk kedua kalinya. Galaukah? Malukah Rasulullah? Sama sekali tidak. Kembali lagi prinsip tadi, cinta ditolak biasa-biasa saja. Kalau penolakan pertama Allah gantikan dengan Khadijah, pada penolakan kedua ini Allah gantikan dengan Aisyah, Ummu Salamah dan sederet wanita solehah yang sempat menjadi istri Rasulullah. Inginnya aku, kita seperti Rasulullah. Jangan galau dengan urusan cinta. Ubah paradigma berfikir kita. Urusan cinta itu soal biasa. Tugas kita adalah menyalurkan sesuai tuntunan Allah. Kalau ditolak jangan galau. Santai saja. Termasuk ketika islam meminta kita mengakhiri hubungan pacaran ini. Maka jangan risau. Tak perlu galau. Laksanakan saja. Agar hati tegar menghadapinya, maka kita harus punya ilmu. Diatas ilmu islam itu kita bangun ketegaran hati. Lalu dari mana kita mulai? mana yang hendak kita kaji di awal-awal? Tak perlu terlalu bingung. Ilmu Allah teramat luas. Aku ragu, umur kita akan cukup untuk mengkaji semua ilmu-Nya. Aku hendak mengajakmu untuk belajar tentang iman. Itu yang utama. Belajarlah dari petani kurma. Bila hendak menanam kurma, dua atau tiga biji dibenamkan ke dalam tanah. Setelah itu ditimbun batu-batu. Gunanya agar akar terlebih dahulu tumbuh. Menghujam ke dalam bumi. Mencari air sumber kehidupan. Kalau akarnya sudah kuat, tunas akan tumbuh menghancurkan batu-batu yang menindisnya. Akhirnya, selamat bertumbuh sebagai sebatang kurma yang kokoh. Setelah kurma, kita perhatikan bambu. Flora ini punya gaya yang mirip-mirip. Di tahun-tahun awal pertumbuhannya, bambu seperti tidak bertumbuh. Hanya bertambah beberapa sentimeter per tahun. Ukurannya begitu-begitu saja. Bertambah panjang tapi lambat sekali. Boleh jadi banyak yang mengiranya mati. Padahal tidak. Bambu memang lambat bertumbuh, sebab tumbuhnya. Bambu lebih memilih untuk tumbuh ke bawah, dia lebih memilih untuk mengokohkan akar di periode awal. Dan tunggulah, saat akarnya sudah kuat, maka pertumbuhan ke atasnya begitu pesat. Bambu baru bertumbuh saat akarnya sudah kokoh. Siap menopang dari segala terpaan badai. Kita berdua serupa dengan kurma yang tak ditutupi batu. Belum kuat akarnya, tapi sudah berani memilih untuk tumbuh ke atas. Landasan keimanan kita belum kokoh. ilmu tentang cinta yang sesuai syariat juga belum memadai. Sebab banyak hembusan godaan, kita berani sekali memilih untuk memulai hubungan pacaran. Itulah kesalahan kita. Beruntung sekarang masih ada kesempatan untuk mengokohkan iman. Mengerti tentang cinta yang dikehendaki Allah. Dulu ketika berani memutuskan saling mengungkap cinta sekarang kita baru sadar, kalau caranya salah. Bisa ditebak cerita selanjutnya. Kita adalah bambu rapuh yang segera akan oleng, runtuh dan tercabut. Biar saja runtuh, bersama runtuhnya ikatan pacaran yang telah terjalin. Sekarang kita adalah tunas bambu yang baru. Hendak bertumbuh dengan gaya yang lain. Gaya yang benar. Menguatkan akar dulu. Setelah tegar, kokoh akarnya baru tumbuh menjulang tinggi. Dan akar itu adalah keimanan. Kuatkan cengkraman iman di hati, maka insyaAllah kita akan dituntun untuk mengerti tentang jalan menuju cinta sejati. Jalan menuju iman. Nanti setelah belajar tentang iman, selanjutnya bersiap-siap beralih pada ilmu tentang syariat. Bila telah yakin akan keberadaan Allah, keperkasaan Allah, kebenaran Allah, maka selanjutnya taatlah pada Allah. Ada banyak aturan yang Allah anugerahkan untuk kita. Bukan untuk menyusahkan, tapi untuk membuat bahagia. Berani pacaran, itu berarti berani melanggar syariat. Semoga saja pelanggaran itu tersebab ketidaktahuan kita. Bukan karena kesombongan, sudah tahu salah tapi berani melakukan. Sudah tahu benar, tapi malah ditolak. Bila iman telah tergenggam, syariat mulai dijalankan, berarti kita mulai satu frekuensi dalam perjuangan. Jangan hanya berpikir selamat sendiri. Pikirkan juga untuk menyelamatkan orang lain. Berjuang untuk menghalangi muda mudi muslim untuk terjerumus ke dalam jurang yang kita pernah terjerumus ke dalamnya. Aku sementara menata diri bersiap untuk itu. Dan aku harap kau pun begitu. Sudah ada ilmu, selanjutnya berniat amalkan lalu sampaikan. Menyampaikan ilmu adalah perjuangan kita selanjutnya. Siap? Go!Baca juga Jomblo Jangan Bersedih !! Tenang Ada AllahKita ini seperti kapal, yang akan terus berlayar. Hingga nanti Allah panggil pulang. Kapal hati kita baru saja memulai babak yang baru. Babak putus yang mengantarkan pada edisi kesendirian. Tapi kita tetap harus ikhlas, bahagia dalam sendiri. Setelah ini yakinlah ada goncangan yang bertubi-tubi. Hanya satu jawaban dari sebuah goncangan... Tetaplah teguh.rcHn.